Pengertian Maf’ul Liajlih

2 min read

Maf’ul Liajlih – Sobat WaheedBaly.com dikesempatan ini penulis akan berbagi sebuah artikel yang kali ini akan membahas tentang Pengertian Maf’ul Liajlih. Langsung saja untuk sobat yang ingin tahu lebih lanjut mengenai Maf’ul Liajlih simak artikel berikut dibawah ini mari kita simak.

Pengertian Maf’ul Liajlih

Maf’ul liajlih merupakan Isim yang dibaca nashab yang bermanfaat atau disebutkan guna menyatakan sebab atau motif terjadinya suatu perbuatan.

Sedikit penjelasan, setiap apapun yang dilakukan oleh manusia atau bahkan hewan tentunya memiliki suatu alasan, sebab dan motivasi yang mendorongnya untuk melakukan hal atau pekerjaan tersebut.

Misalnya, seseorang ingin mendatangi majlis ilmu, lalu pada saat orang itu di tanya, dengan pertanyaan seperti ; “apa alasannya?, untuk apa?, kenapa?”, sudah tentu orang tersebut mempunyai alasan, motivasi, ataupun sebab sehingga ingin mendatangi majelis ilmu.

Adapun contoh sebabnya seperti ” Aku mendatangi Majelis ilmu, karena ingin mendapat tambahan ilmu“. Nah, inilah yang di maksud dengan maf’ul liajlih. Adapun contoh lainnya di bawah ini.

Contoh Maf’ul Liajlih

  • ضَرَبْتُ الْوَلَدَ تَأْدِيْبًا لَهُ
    ( Aku memukul anak tersebut karena bermaksud untuk mendidiknya)
  • أذهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ رَغْبَةً فِيْ الْعِلْمِ
    ( Aku berangkat ke sekolah sebab mencintai Ilmu)
  • أكَلْتُ الطَعَامَ جَوْعًا
    (Aku memakan makanan karena lapar)
  • رَجَعْتُ إِلَى البَيْتِ شَوْقًا لِلْأسْرَةِ
    (Aku pulang ke rumah karena rindu dengan keluarga)
  • جَلَسْتُ عَلَى الكُرْسِيِّ تَعْبًا
    (Aku duduk di atas kursi karena lelah)

Adapun hal yang menjadi sebab, alasan atau motivasi seperti ‘lelah’, ‘rindu’, ‘lapar’, ‘mencinati ilmu’, dan ‘mendidik’ seperti contoh di atas yakni menjadi maf’ul li ajlih, untuk hukumnya yakni nashob dan sebagai tanda nashob nya sendiri adalah fathah.

Contoh lainnya, kalimat yang biasa menjadi maf’ul li ajlih yakni sebagai berikut :

إِكْرَامًا (sebab hormat) حَسَدًا (karena iri) فَرْحًا (karena senang)
حيَاءً (karena malu) حُبًّا (karena cinta) تَعْبًا (karena lelah)
حُزْنًا (karena sedih) بُغْضًا ( sebab  marah) شُكْرًا (karena bersyukur)
رَحْمَةً (karena sayang) إِيْمَانًا (karena beriman) غَضْبًا (karena marah)
خَوْفًا (karena takut) شَفَقَةً (sebab kasihan) رَغْبَةً (karena cinta)

Penjelasan :

Hukum Maf’ul li Ajlih sebenarnya dibaca Nashob, tetapi bisa di Jarr dengan huruf  Lam (ل) dan juga ada kalanya Maf’ul li Ajlih tidak sama sekali menduduki sebagai ma’ful liajlih, akan tetapi menjadi Jarr-Majrur dan memiliki hubungan (ta’aluq) dengan kata sebelumnya.

Contoh:

أَعْطَيْتُ الْفَقِيْرَ طَعَامًا لِشَفَقَتِهِ
(Saya memberi makanan kepada orang fakir tersebut sebab kasihan kepadanya)

Coba kalian perhatikan kalimat tersebut pada kata ‘لِشَفَقَتِهِ‘, yang mana kata tersebut sebetulnya menjadi ma’ful liajlih, namun disini kalimat tersebut dibaca jar karena pada kata tersebut terdapat huruf lam ‘لِ‘, dengan diawali huruf lam (huruf jar) maka kata tersebut ada hubungan dengan kata yang sebelumnya, perhatikan : ‘saya memberi orang fakir tersebut makanan’ ini menjadi kalimat pertamanya, karena dimasuki huruf jar yang terdapat pada kata ‘لِشَفَقَتِهِ‘ maka jar-majrur tersebut memiliki hubungan, yang kemudian diterjemahkan dengan kalimat ‘sebab kasihan kepadanya’.

Contoh Maf’ul Liajlih di Al-Qur’an

  • Al-Baqarah: 19

يَجْعَلُوْنَ أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ

  • Al-Baqarah: 90

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْياً أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

  • Al-Baqarah: 109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

  • An-Nisa: 6

فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا

  • Al-An’am: 154

 ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ

  • Al-‘Anfal: 10

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ

  • Al-Isra: 59

 وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

  • An-Nahl: 89

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

  • Ar-Rum: 24

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً

  • Al-Mursalat: 5-6

فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا. عُذْرًا أَوْ نُذْرًا

Syarat atau Ketentuan Maf’ul Li Ajlih

Setelah kita mengetahui pengertian dan contoh dari maful min liajlih, berikut ini yang penting kita pelajari juga yakni mengenai ketentuan-ketentuan dari Maf’ul Li Ajlih, sebagai berikut ;

  1. Maf’ul Li ajlih harus selalu memakai Mashdar
    Contoh ;
  • إِكْرَامًا (sebab hormat)
  • حُزْنًا (karena sedih)
  • خَوْفًا (karena takut)
  • حُبًّا (karena cinta)
  • تَاْدِيْبًا ( sebab  mendidik)
  • شَفَقَةً (sebab kasihan)
  • تَعْبًا (karena lelah)
  • غَضْبًا (karena marah)
  1. Maf’ul Li Ajlih harus terdiri dari perbuatan / tindakan yang berhubungan dengan hati dan dinamakan ;
  • أَفْعَالُ الْقَلْب ,تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا, طَعَامًا

Penjelasan;
contoh kalimat di atas merupakan suatu tindakan yang ada sangkutannya dengan hati.

  1. Untuk menggali Maf’ul Li Ajlih kita bisa menggunakan kata tanya yakni ‘mengapa?’ / ‘kenapa?’
  • تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا طَعَامًا

Penjelasan ;
kata-kata seperti tersebut di atas merupakan jawaban dari pertanyaan “kenapa? / mengapa?”, atau adanya hubungan sebab-akibat dari dari suatu pekerjaan, tindakan atau perbuatan.

Contoh lain dari maf’ul liajlih yang memenuhi syarat tersebut yakni sebagai berikut :

  • قَامَ زَيْدٌ إجْلاَلاً لِعَمْرٍو
    “Zaed berdiri karena memuliakan Amr”
  • َقَصَدْتُكَ ابْتِغَاءَ مَعْرُوْفِك
    “Aku mengunjungimu karena mengharap kebaikanmu”

Kata ابْتِغَاءَ & إجْلاَلاً merupakan mashdar (kata dasar) dari fi’il mudlo’af أَجَلَّ dan fi’il naqish (ابْتَغَى) yang mana keduanya ini ialah bentuk dari pekerjaan hati, bersamaan dengan adanya pelaku dan juga waktu pekerjaan tersebut قَامَ dan قَصَدَ serta adanya penjelasan mengenai alasan قَامَ nya Zaed dan قَصَدْتُ. Maka dengan demikian, mashdar / akata dasar tersebut haruslah beri’rob nashab sebagai maf’ul li ajlih/maf’ul min ajlih/maf’ul lahu.

Demikianlah pembahasan tentang Maf’ul Liajlih yang penulis bagikan. Harapan penulis semoga artikel ini dapat memberikan manfaat serta dapat membantu untuk lebih memahami ilmu akhirat.

Baca Juga :

Rate this post

Hukum Newton

wahed234
2 min read

Arti Yaumul Milad

GuruCerdas Rada
4 min read

Pengertian Syirkah

GuruCerdas Rada
3 min read